Pada suatu kisah, seorang anak manusia diperbolehkan datang dan menyapa ruang penuh hingar bingar. Menyisakan pikiran yang masih jernih, tanpa noda atau cela. Beriringan datang rona bahagia dan ceria. Dunia seolah menyembunyikan luka dan lara darinya dan memperlihatkan semua berjalan dengan sangat baik. Hanya ada ceria dan cerita bahagia. Kisah dan perjalanan tidak rela pikiran terisi dengan hingar bingar yang penuh tanda tanya dan kepalsuan.
Demikian jua perasaan, laksana kertas putih bersih tanpa sedikitpun goresan menyakitkan. Sungguh, dunia menjadi sangat baik di kala ini.
Lalu setelahnya?
Kisah berlanjut dan masa terus berjalan dengan semestinya. Waktu berputar dan menyisakan kisah yang lebih berwarna.Hanya saja, dunia tak sepenuhnya memanjakan. Sedikit demi sedikit mulai memperlihatkan wajah lain. Pikiran ibarat gelas kosong yang kian lama dituang air setetes demi setetes. Makin banyak hal yang terlihat. Perasaan ibarat kertas putih yang makin lama dipercikan tinta setes demi setetes. Kian menapakkan warna dengan semestinya.
Celotehan riang yang terdengar lambat laun memudar berganti sedih dan air mata yang mengalir. Pada kisah ini tertulis luka dan perih. Hanya saja dunia tahu menaruh porsi bahagia dan sedih serta lara dan tawa. Anak kecil itu berlahan menemukan dunia yang belum pernah dilihat sebelumnya. Ada tanda tanya yang kian bertengger rapi di benaknya.
Perjalanan terus berlanjut. Dunia mulai terlihat kejam, beringas, dan penuh amarah. Dunia tidak baik - baik saja. Cerita lara makin sering terdengar. Sungguh menyayat hati di kala mendengarnya. Dunia begitu kejam. Merenggut makna bahagia. "Apa itu bahagia? Ke mana hilangnya?" pertanyaan ini menjadi kisah yang mendiami hari - hari anak manusia ini.
Lantas apa yang perlu diperjuangkan?
Apa yang harus dilakukan?
Mengapa.... Mengapa... Mengapa...
Tidak! Begitu teriakan di kala dunia tidak bersahabat dengannya.
SALAH!
Tidak semuanya yang berwarna hitam dan kelabu menjadi sedih....
Tidak semua kisah harus penuh tawa....
Hingga kata bersahabat dengan dunia menjadi perjalanan berikutnya. Anak manusia ini kian tahu ke mana arah kisah. Kisah akan menjadi seperti apa. Alur bagaimana yang semesta berikan padanya. Semesta mengajarkan,"pencarian jati diri dengan seutuhnya!" Ada senyum di sana di kala diri anak manusia itu mencoba bersahabat seutuhnya dengan kisah dan perjalanan. Masa ini dirinya tahu bahwa ada dunia yang harus dirinya temukan selain dunia diterima dari semesta.
Perjalanan tahu porsinya.....
Ada tanda tanya yang harus ditemukan jawabannya. Senyuman yang hilang ditemukan dengan formula yang tepat. Penerimaan diri dan percaya pada semesta.
1 cangkir kebahagiaan berisikan senyuman dan kepercayaan.
Ya, dunia telah mengubah pandangannya tentang kisah. Di tiap lara terselip tawa saat dirinya melihat sedih dari pandangan yang berbeda. Sungguh lawan menjadi teman. Demikian dunia dari pandangannya sekarang.
Akhirnya ada celotehan,"dunia itu baik saat dilihat kembali dengan cara pandang yang berbeda."
Semesta telah mengajarkan masa akan menemukan kisah sewajarnya.
Saat tahu, masa itu akan berganti dengan kehidupan lainnya. Ya, ada masanya pergi. Anak manusia telah mengetahui cara tersenyum dengan utuh dan membuat dunia ikut tersenyum besertanya. Dirinya tidak takut lagi kapan waktunya habis di dunia yang penuh hingar bingar dan fatamorgana. "Tidak tahu! Hanya satu yang pasti,,,, Ya, pasti akan pergi. Ya, pergi dan saya siap!" Anak manusia belajar menebar senyum dengan utuh dan saatnya pergi, dirinya tahu selkelilingnya tidak menimbulkan amarah lagi hanya menyisakan senyum dan kata bahagia.
Nirwana dan tingkap langit menerimanya dengan penuh sukacita. Sang Kjhalik menyambutnya dengan tangan terbuka.
Masa itu akan tiba nantinya.
#jujur, belum siap menerima pergi walau tahu ada senyum di sana.
jujur, kata saya tidak baik kadangkala sebagai permohonan untuk terus memperbaiki diri dan menerima semesta dengan utuh.
perihal pergi semoga menyisakan makna bahagia dengan semestinya...
ada kata semoga....
Komentar
Posting Komentar