Pertemuan dan Perpisahan

Sejak hari ini, kisah kita hanya illusi pandang. Menjaga hadirmu dalam kehidupanku tidak akan mengubah keadaan. Semua telah berakhir dengan semestinya. Tidak ada kata perpisahan yang lantang diucapkan. Saya menganggap semua telah usai dan selesai dengan semestinya. Mengharapkan kamu bisa mengerti alasan dari keputusan pahit ini, saya tidak lagi menginginkannya.

kamu menjadi bagian termanis dan terpahit dari perjalanan menemukan. Tentu saya tidak akan secepat itu melupakan saat pertama kali saya memberanikan diri bersuara di hadapan seseorang yang saya harapkan hadir menemani hari - hari saya. Tepatnya hari Sabtu di kala bulan purnama menampakkan cerlangnya. Jujur, saya tidak mudah membuka pembicaraan apalagi dari jarak sedekat ini. Senyuman itu menjadi awal dari pembicaraan setelahnya. Jika boleh berujar gombal," senyuman kamu tentu menjadi senyuman termanis yang pernah singgah di pikiran saya." 

Saat itu pandangan kita berdua saling bertaut. Sungguh, saya berharap dunia saya berhenti di sana. Harapan kosong dari pikiran yang melayang hadir dengan pertanyaan," bolehkah waktu berhenti sejenak?" Saya akan tertawa terbahak - bahak saat mendapati kisah tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Pertemuan tidak harus dipersalahkan. Manakala menyadari bahwa di setiap perjalanan ada kata takdir sedang menghampiri. 

Pertemuan itu dipenuhi kecanggungan. Bagaimana tidak, rasanya pembicaraan selalu terjeda begitu lama. Mungkin salah tingkah saat itu. Sungguh, kisah akan menemukan caranya untuk mempererat pertemuan. Terbukti dengan hadirnya pertemuan kita setelahnya.

Setahun bukan waktu yang sebentar. Lama.... Rentang untuk menemukan alur dari pembicaraan dan obrolan kita. Saya berani menyelipkan kata "kita" dari perjalanan ini. Bukan semata - mata untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa perjalanan kisah menemukan titik temu yang tepat. Hanya saja, saya beranggapan pertemuan kita merupakan karunia dari pemilik semesta. 

Hingga, waktu tidak selamanya bersahabat. Hanya setahun kisah kita diperbolehkan hadir mengisi ruang masing - masing perasaan. Sungguh miris rasanya. Ingin menangis? Tidak! Saya sudah berjanji pada dirimu saat terakhir kita diperbolehkan bertemu. "Saya tidak akan menangis bahkan jika perjalanan kita diperbolehkan terhenti oleh semesta." Janjo itu saya genapi. Jika pada saatnya saya rapuh ketika menelisik perjalanan kita, saya akan mengingat janji itu. Tidak ada air mata dari selesainya komitmen kita.

Teruslah menghebat, 

Teruslah menguat,

Teruslah tersenyum

Saya janji akan hadir di saat kamu rapuh

Walaupun berbeda rasa, tapi  ikatan kita tidak boleh terputus. 

Kamu berhak bahagia dan temukan seseorang yang mampu menjadi kuatmu, menjadi penyemangatmu, dan mengikat komitmen kalian dengan erat tanpa ada keinginan untuk diakhiri. 


Salam hangat,

Lihat langit... Salam saya pada rindu di malam itu.


Komentar