Cerita Kita Pada Senja

Dua November Dua Ribu Dua Puluh perjalanan kita usai. Di kala hujan rintik - rintik membasahi bumi. Di suatu tempat kamu lantang berujar maaf disertai salam perpisahan. Tanpa berjabat tangan hanya menyisakan kecanggungan. 

Mau bagaimana lagi?

Tidak ada keraguan di kala kita sepakat mengakhiri semuanya dengan ikhlas tanpa rasa lara. Jujur, kaget dan tidak kuat mendengar alasan dari semua ini. Ketidakcocokan. Ya, benar kata kamu kita berjalan berjauhan tidak satu arah. Benar! Ya, kamu benar! Kamu meneruskan argumen dan meyakinkan komitmen kita harus usai di sini. Benar! Komitmen tanpa tujuan seperti kapal tak bertuan. Semakin mudah terhempas badai. Demikian  hubungan kita semakin mudah kandas.

Menyesal bukan kata yang harus terucap dari perpisahan ini.

Kamu menjadi bagian dari kata rindu yang dikirim semesta padaku saat pertama kita dipertemukan.

Benteng pertahanan komitmen kita runtuh dalam sekejap. Kata "putus" menjadi penghancur jembatan antara kamu dan saya. Berakhir sudah. Komitmen kita lepas kendali, kapal hubungan kita telah karam. 

Saya pikir kamu akan bertanya alasan mengapa saya menyetujui keinginan kamu. Slah! Tidak ada pertanyaan seperti itu keluar dari bibirmu. Siapa yang egois? Siapa yang bertekad kuat mengakhirinya dalam sekejap? Siapa? Kamu!

Secara naluri, saya kecewa.
Saya manusia biasa.

Saya seorang perempuan yang terkadang rapuh. Jika selama ini saya tidak memperlihatkan air mata di hadapanmu lantas degan mudah kamu menyimpulkan saya akan tegar. Tidak. Semua tumpah di sore itu. Air mata yang selma ini tersembunyi ternyata keluar tak terkendalikan. Mengalir deras. Sungguh saya tidak kuat! Saya lantas tertawa dan mengusap air mata itu. Tidak seharusnya perpisahan diakhiri dengan kata "cengeng" hingga kamu menyimpulkan saya wanita yang lemah. Saya tidak ingin argumen itu ada di pikiranmu.

Saya membangun kembali puing - puing kesadaran yang telah sirna.
Saya menggigit bibir saya. Saya rasa kesadaran saya harus segera pulih. Semesta mendukung dan saya berani berujar kata "tidak apa - apa. semua akan membaik dengan semestinya."

Deru ombak bersahutan menyuarakan agar saya mengembalikan kesadaran dari pahitnya kata pisah. Sang mentari kian tenggelam dan senja datang menghampiri. Langit berpedar jingga menjadi penutup perjalanan kisah itu. Kisah kita mencapai titik akhirnya. 

Sore itu kali terakhir kamu mengusap bahuku. Apakah ini lantas menjadi bahasa perpisahan ternyaman? Bagimana tidak saya mempertanyakannya karena selama ini kita tidak pernah bersentuhan dengan intens. Ada tembok yang menjadi komitmen kita berdua selama menjalani hubungan ini. Ternyata perjanjian itu diingari pada hari terakhir pertemuan kita. 

Senja yang saya sukai dan harapkan hadir ternyata menjadi tidak menari ditunggu. Kamu telah membuka cakrawala pandangan saya perihal hubungan. Terima kasih kisah yang belum genap satu tahun ini. Kamu mengajarkan bahwa di hubungan selanjutnya kita harus menyiapkan perasaan dengan lapang saat kata perpisahan datang menghampiri. Tapi, satu pinta saya nantinya di hubungan kita dengan pasangan masing - masing, tidak ada kata pisah atau putus. Saya egois mengharapkan ini. Hanya saja, menurut saya komitmen akan menjadi rumah ternyaman di suatu hubungan bila ada keinginan untuk mempertahankan dan memperbaikinya saat ada yang tidak baik. Semoga kamu menemukan pasangan yang menjadi rumahmu kembali. Jaga baik - baik, perbaiki dahulu jika ada yang tidak tepat, agar perasaan tidak mudah berakhir dengan jalan perpisahan.

Saya tetap membuka ruang untuk kita berbicara. Kita berbeda rasa, bukan berlandaskan perasaan yang erat, hanya sebatas perbincangan saja. 
Sampai bertemu kembali....
Sore itu kamu sukses membuatku terintimidasi dengan suasana senja. Memberi luka di kala senja menghampiri. Saya kecewa.



Komentar