Sederhana dalam Perasaan

 

Kamu adalah bagian dari tiap obrolanku pada sang Khalik

Aku tidak meminta seseorang yang sempurna

Tidak sama sekali!

Pandanganku tentang hubungan bukan sekedar cinta yang bisa diumbar – umbar! 

Sejak dulu, perihal cinta bukanlah ajang permainan!

Simpel dan sederhana.....

Menurutku hubungan berbicara komitmen dan penerimaan

Sederhana, aku meminta yang sederhana

Sesederhana kamu bersedia mendengar lelucon garingku

Sesederhana kamu tersenyum saat kita bertemu

Sesederhana seperti sekarang, saat mengakui separuh hatiku telah berhasil direbut olehmu

 

Aku terlalu jauh masuk dunia hayal tentangmu

Bukan karena mengenalmu sangat dekat

Justru aku menghayalkanmu sebab sama sekali tidak mengenal pribadimu

Lucu bukan? Tapi kenyataan begitu adanya.....

Jujur, aku ingin mengulang waktu, seandainya menyadari perihal perasaan ini datang lebih awal

Di saat kita masih sering bertemu

Hanya saja saat itu,

Aku tidak menotice dirimu

Jujur, aku tidak tahu kamu

Sedekat itu pertemuan kita, tapi sejauh itu juga jarak memisahkan perasaan kita

Aku hanya menerka – nerka bagaimana karaktermu

 

Bahwa kenyataan sekarang berkata lain

Banyak rahasia yang tidak kuketahui tentangmu

Eii...

Sepertinya aku pernah bilang,”hah? Yakin orangnya begitu? Sepertinya tidak! Dia itu baik tahu.”

Aku hanya menerka – nerka karena pesona dan circle pertemananmu yang terlalu jauh untuk diraih

Hanya bisa mendengar tentangmu dari orang – orang di sekelilingku saat itu

 

Saat itu juga,

Aku tahu di hatimu telah ada seseorang yang berhasil mengetuknya, begitupun denganku

Kita tidaklah diperuntukkan berjalan beriringan

Bahkan dalam benak ini tidak terlintas namamu

Maaf...

 

Hingga, sang waktu mengajakku berjalan mengetuk pintu masa lalu

Menemukan dirimu ada di sana

Jujur terlalu terlambat menyadarinya

Karena aku tidak dapat memutar memori tentangmu

Jika kamu meminta satu saja yang bisa kuingat tentangmu

“pesonamu, ya pesonamu hanya itu yang diingat!”

 

Entah kamu sadar atau tidak

Diksi tidak sebercanda itu saat dituliskan

Butuh keberanian untuk dipublikasikan

Jujur perlu pemikiran berulang kali untuk menampilkannya

Ada pergolakan apakah iya atau tidak....  Pergolakan yang muncul silih berganti....

Aku bukan ingin kelihatan di hadapanmu

Tidak!

Garis waktu telah mempermainkan perasaanku saat ini

 

Hingga kisah berhasil mengetuk kembali perasaanku

Aneh! Di saat diri ini ingin membuka sekat – sekat labirin hati...

Justru di saat bersamaan, logikaku menolak kehadiranmu

Bukan karena apa masa lalumu

Bukan!

Aku kalah, aku nyerah pada perasaanku sendiri

Karena pergolakan batin saat menerimamu membuka relung hatiku

Aku juga tidak dapat  mengartikan perasaan apa itu...

Ada kata takut yang menghampiriku

Ya...

Aku takut dari biasa saja bisa menjadi luar biasa

Aku takut membawa perasaan ini sendirian

Aku takut terbawa emosi untuk mengharapkan hadirmu

Egois ya? Maaf....

Satu hal yang harusnya kusadari sejak awal

Perihal kehadiran sekat – sekat yang terlalu tinggi yang tidak dapat terlewati

Entah kamu sadar atau tidak tapi itulah kenyataannya

Sekat utama dan tidak dapat terlewati begitu saja

Perihal penerimaan yang belum tentu dapat diterima orang terdekat

Hanya ini yang dapat kulakukan saat melihatmu

Eitttssss bukan melihat rupamu

Tapi, memandangmu dari feed – feed kolase media sosialmu

Dan lucunya....

Tanpa terasa air mataku keluar tidak terkendalikan

Aku harus bagaimana?

Apa salah aku membangun hati?

Maaf bila pertemuan kembali ini membuat suasana canggung dan risih

Hemmmpphhhh.......

Jika sekarang kamu menanyakan keadaan perasaanku

“Jujur sedang tidak aman!” Hanya itu yang terlintas.....

Komentar