Hitam kulit keriting rambut, aku Papua
Hitam kulit keriting rambut, aku Papua
Lirik lagu "Aku Papua" yang ditulis oleh (Alm) Frangky Sahilatua menjadi kebanggaan dan gelora perasaan dari saudara kita di tanah Papua. Lagu yang mengisyaratkan bahwa walaupun kita berbeda fisik, tapi mereka menginginkan kita melihat daerah ini merupakan bagian dari negara kita, Indonesia.
Papua, surga kecil yang dikaruniakan sang Ilahi di bumi pertiwi. Sangat pantas bumi Cendrawasih mendapatkan julukan "surga kecil" karena betapa berlimpahnya SDA di sana. Seperti yang kita ketahui emas berlimpah yang ada di tanah Papua menjadi salah satu sumber pendapatan bagi bumi pertiwi (harap diingat). Selain SDA, destinasi alam banyak yang populer di sana menjadi daya tarik dengan pesonanya. Siapa yang tidak kenal dengan Raja Ampat? Suatu tempat yang menjadi destinasi yang paling diminati wisatawan saat ini.
Di balik hal - hal yang dikaruniakan Tuhan yang hanya ada di bumi Papua, ada terselip kekecewaan yang dirasakan oleh masyarakatnya. Mereka yang dicap "primitif" selama ini sudah tidak kaget dengan kata - kata provokatif atau ucapan - ucapan rasis. Selama mereka hidup, saya yakin mereka sudah banyak mendengar kata - kata ini. Sungguh ironi, ketika negara lain memandang kita sebagai negara dengan "keramahan dan demokratis" yang lebih maju di banding beberapa negara lain, di saat yang bersamaan kita tanpa sadar menyuarakan perselisihan dengan saudara senegara kita sendiri.
Dari sekian banyak duka yang mereka rasakan, luka itu kembali dibuat oleh saudaranya sendiri. Tepat ketika HUT Republik ini di tahun 2019, momentum yang seharusnya disambut keceriaan dan kegembiraan ternyata tidak dirasakan oleh sebagian masyarakat Papua. Sacara naluriah, ketika kata - kata propaganda ke arah rasis itu tertuju bagi "generasi emas"-nya mereka tentu menyakiti hati hampir seluruh elemen masyarakat di sana. Mahasiswa yang sedang menuntut ilmu dan inginkan kesetaraan pendidikan bagi mereka mendapat perlakuan yang kurang berkenan. Persekusi? Ini menjadi kata kerja yang harus dihindari. Di era yang sudah maju peradabannya, kita justru mengambil langkah yang terkesan "kuno dan tidak etis dilakukan". Sunguh ironi....
Ada yang bilang,"jika kita ingin meredakan masalah, jangan mengambil kesimpulan dengan mendengarkan salah satu pihak saja." Benar, kita ada jalan musyawarah kita harus mengambil keputusan saat mendengar dari kedua pihak yang berselisih. Tidak fair rasanya ketika kita menyimpulkan rasa bersalah atau tidak hanya dengan perkataan - perkataan saja, bukannya fakta yang harus kita lihat? Ironi saudaraku sekalian. Permasalahan yang harusnya dapat diselesaikan dengan kepala dingin menjadi semakin memanas oleh tindakan kurangbijak yang kita lakukan. Kita merasa "perkasa" mengatasnamakan pembenaran dengan suatu tindakan yang sebenarnya salah.
Buka mata dan hati kalian duhai sesama saudara yang bernaung di negara ini.
Selagi kita menginjakkan kaki di negara ini, kita satu. Satu bukan berarti kita harus sama bukan? Hei, warna kulit, hai warna mata, hai bentuk hidung, apa kabar kalian? Ini fisik yang kalian bicarakan bukan? Sudahi itu!
Mereka yang dua hari terkepung di sana merupakan penerus bangsa ini. Mereka berhak mendapatkan pengakuan dari kita bahwa kita "saudara". Rangkul aku? Hal - hal mengenai keputusan beringas itu tentu bukan jalan keluar yang harus diambil, bukan? Semakin kita mengatakan itu, membuat jurang pemisah antara kita dengan mereka semakin jauh. Sekarang efek dari masalah ini hanya "letupan" kecil, tapi bagaimana dengan beberapa tahun ke depan? Yang kalian usik itu, mereka yang pemikirannya sedang berkembang. Bagaimana jika perbuatan kalian membuat ingatan dengan sentimen itu sangat mengena di hati mereka? BOOMMMM... Kita pecah, duhai saudara! Sebenarnya, perlu diingat mereka tidak akan mengusik kita jika kita tidak mengusik mereka. Permasalahan yang katanya menjadi akar itu, sebaiknya ditanyakan dengan cara berbicara. Bukannya mereka memilki pendapat? Kita harus belajar mendengarkan, teman!
Ras kita memang berbeda....
Kita lebih ke Melayu sedangkan mereka lebih ke Malanesia. Tidak menjadi masalah bukan? Perlu kita sadari bahwa fisik merupakan hal yang paling terlihat dari kedua ras ini. Menjadi masalah? Selama kita tidak memandang fisik, tapi kita memandang pemikiran dan jiwa yang ada, saya rasa tidak masalah! Kita satu kesatuan, sama - sama memiliki jiwa patriotisme dan nasionalisme.
Perlu diingat, mereka terbiasa dengan konflik. Jika kita sesama saudara yang baru mereka temui mempertunjukkan kekerasan dan adu laga, maka kita tidak membuat mereka tertarik untuk melihat kita... Kita perlu pendekatan yang berbeda, kita perlu merangkul dan mengasihi mereka. Menerima perbedaan itu dan menjadikannya pengikat persaudaraan kita.
Indonesia bukan tentang ke'aku'an, tapi Indonesia itu 'kita', saudara.
Duka mereka, duka kita...
Duka kita juga duka mereka.
Sepertinya simpati dan empati kita sedang diuji dan kita berperan untuk memperbaikinya.
Gesekan dalam pergaulan tentu ada, tapi tidak selalu mempertontonkan adu laga dengan kekerasan fisik atau kata - kata "propaganda", bukan? Ada kalanya mendengarkan menjadi solusi...
Kita dapat mendengarkan jika kita ingin didengar...
Sederhana.....
Stop rasis!
Agama, Suku, Ras, bahkan Budaya dapat berbeda. Kita tetap satu kesatuan, INDONESIA selama kita masih menginjakkan kaki di bumi pertiwi.
Kami Cinta dan Sayang Bumi Pertiwi.
Hitam kulit keriting rambut, aku Papua
Lirik lagu "Aku Papua" yang ditulis oleh (Alm) Frangky Sahilatua menjadi kebanggaan dan gelora perasaan dari saudara kita di tanah Papua. Lagu yang mengisyaratkan bahwa walaupun kita berbeda fisik, tapi mereka menginginkan kita melihat daerah ini merupakan bagian dari negara kita, Indonesia.
Papua, surga kecil yang dikaruniakan sang Ilahi di bumi pertiwi. Sangat pantas bumi Cendrawasih mendapatkan julukan "surga kecil" karena betapa berlimpahnya SDA di sana. Seperti yang kita ketahui emas berlimpah yang ada di tanah Papua menjadi salah satu sumber pendapatan bagi bumi pertiwi (harap diingat). Selain SDA, destinasi alam banyak yang populer di sana menjadi daya tarik dengan pesonanya. Siapa yang tidak kenal dengan Raja Ampat? Suatu tempat yang menjadi destinasi yang paling diminati wisatawan saat ini.
Di balik hal - hal yang dikaruniakan Tuhan yang hanya ada di bumi Papua, ada terselip kekecewaan yang dirasakan oleh masyarakatnya. Mereka yang dicap "primitif" selama ini sudah tidak kaget dengan kata - kata provokatif atau ucapan - ucapan rasis. Selama mereka hidup, saya yakin mereka sudah banyak mendengar kata - kata ini. Sungguh ironi, ketika negara lain memandang kita sebagai negara dengan "keramahan dan demokratis" yang lebih maju di banding beberapa negara lain, di saat yang bersamaan kita tanpa sadar menyuarakan perselisihan dengan saudara senegara kita sendiri.
Dari sekian banyak duka yang mereka rasakan, luka itu kembali dibuat oleh saudaranya sendiri. Tepat ketika HUT Republik ini di tahun 2019, momentum yang seharusnya disambut keceriaan dan kegembiraan ternyata tidak dirasakan oleh sebagian masyarakat Papua. Sacara naluriah, ketika kata - kata propaganda ke arah rasis itu tertuju bagi "generasi emas"-nya mereka tentu menyakiti hati hampir seluruh elemen masyarakat di sana. Mahasiswa yang sedang menuntut ilmu dan inginkan kesetaraan pendidikan bagi mereka mendapat perlakuan yang kurang berkenan. Persekusi? Ini menjadi kata kerja yang harus dihindari. Di era yang sudah maju peradabannya, kita justru mengambil langkah yang terkesan "kuno dan tidak etis dilakukan". Sunguh ironi....
Ada yang bilang,"jika kita ingin meredakan masalah, jangan mengambil kesimpulan dengan mendengarkan salah satu pihak saja." Benar, kita ada jalan musyawarah kita harus mengambil keputusan saat mendengar dari kedua pihak yang berselisih. Tidak fair rasanya ketika kita menyimpulkan rasa bersalah atau tidak hanya dengan perkataan - perkataan saja, bukannya fakta yang harus kita lihat? Ironi saudaraku sekalian. Permasalahan yang harusnya dapat diselesaikan dengan kepala dingin menjadi semakin memanas oleh tindakan kurangbijak yang kita lakukan. Kita merasa "perkasa" mengatasnamakan pembenaran dengan suatu tindakan yang sebenarnya salah.
Buka mata dan hati kalian duhai sesama saudara yang bernaung di negara ini.
Selagi kita menginjakkan kaki di negara ini, kita satu. Satu bukan berarti kita harus sama bukan? Hei, warna kulit, hai warna mata, hai bentuk hidung, apa kabar kalian? Ini fisik yang kalian bicarakan bukan? Sudahi itu!
Mereka yang dua hari terkepung di sana merupakan penerus bangsa ini. Mereka berhak mendapatkan pengakuan dari kita bahwa kita "saudara". Rangkul aku? Hal - hal mengenai keputusan beringas itu tentu bukan jalan keluar yang harus diambil, bukan? Semakin kita mengatakan itu, membuat jurang pemisah antara kita dengan mereka semakin jauh. Sekarang efek dari masalah ini hanya "letupan" kecil, tapi bagaimana dengan beberapa tahun ke depan? Yang kalian usik itu, mereka yang pemikirannya sedang berkembang. Bagaimana jika perbuatan kalian membuat ingatan dengan sentimen itu sangat mengena di hati mereka? BOOMMMM... Kita pecah, duhai saudara! Sebenarnya, perlu diingat mereka tidak akan mengusik kita jika kita tidak mengusik mereka. Permasalahan yang katanya menjadi akar itu, sebaiknya ditanyakan dengan cara berbicara. Bukannya mereka memilki pendapat? Kita harus belajar mendengarkan, teman!
Ras kita memang berbeda....
Kita lebih ke Melayu sedangkan mereka lebih ke Malanesia. Tidak menjadi masalah bukan? Perlu kita sadari bahwa fisik merupakan hal yang paling terlihat dari kedua ras ini. Menjadi masalah? Selama kita tidak memandang fisik, tapi kita memandang pemikiran dan jiwa yang ada, saya rasa tidak masalah! Kita satu kesatuan, sama - sama memiliki jiwa patriotisme dan nasionalisme.
Perlu diingat, mereka terbiasa dengan konflik. Jika kita sesama saudara yang baru mereka temui mempertunjukkan kekerasan dan adu laga, maka kita tidak membuat mereka tertarik untuk melihat kita... Kita perlu pendekatan yang berbeda, kita perlu merangkul dan mengasihi mereka. Menerima perbedaan itu dan menjadikannya pengikat persaudaraan kita.
Indonesia bukan tentang ke'aku'an, tapi Indonesia itu 'kita', saudara.
Duka mereka, duka kita...
Duka kita juga duka mereka.
Sepertinya simpati dan empati kita sedang diuji dan kita berperan untuk memperbaikinya.
Gesekan dalam pergaulan tentu ada, tapi tidak selalu mempertontonkan adu laga dengan kekerasan fisik atau kata - kata "propaganda", bukan? Ada kalanya mendengarkan menjadi solusi...
Kita dapat mendengarkan jika kita ingin didengar...
Sederhana.....
Stop rasis!
Agama, Suku, Ras, bahkan Budaya dapat berbeda. Kita tetap satu kesatuan, INDONESIA selama kita masih menginjakkan kaki di bumi pertiwi.
Kami Cinta dan Sayang Bumi Pertiwi.
Komentar
Posting Komentar