Cerita Pertama Kali Reschedule langsung ke Pihak Maskapai

Hai, balik lagi di pojok Mocchanita
Rindu bercuap – cuap di sini? Pastinya........ ^^

Hem, Ok kita mulai sharing kali ini.

Ini kisah pengalaman pertama. Ceritanya sih mungkin biasa saja bagi sebagian orang, tapi bagi saya yang pertama kali merasakan ini jujur panik dan bingung. 
Penasaran?
Ayo, bercerita bersama saya... 

Awal tahun ini, saya harus pulang (lagi) ke daerah Simalungun dari Bengkulu. Tiket pesawat sudah dipesan di biro perjalanan dari jauh – jauh hari. Sambil nunggu waktu keberangkatan, tenang – tenang saja karena beberapa kali melalui rute ini. Perjalanan dari Bengkulu ke Medan sebenarnya ada tiga tempat transit. Bisa melalui Jakarta, Batam, ataupun Padang. Sudah menjadi kebiasaan sih sebenarnya milih dari Padang. SSSSSTTSSSS faktor kebiasaan itu sebenarnya alasan ke sekian. Faktor utamanya karena tiket lebih murah dari sana (curhat dikit bolehlah ya… ^^). Lagian sudah kena bagasi berbayar untuk pertama kalinya saat itu. Jadi, dengan dua alasan itu, dirasa cukup untuk menetapkan pilihan transit melalui Padang.

Sampai, kejadian ini yang pertama kali saya alami.

Biasanya setelah dapat kode booking  dari biro penerbangan ya  santai menunggu waktu keberangkatan. Sampai, pengalaman itu akhirnya menghampiri. Sehari sebelum keberangkatan, tiba – tiba pihak biro perjalanan mengirimkan pesan ke aplikasi yang digunakan. Pesan cinta dari biro perjalanan membuat auto panik (kebiasan jelek sebenarnya). Yuhuuuu... Muncul ketidaksingkronan antara jadwal pertama dengan jadwal perubahan. Biasanya ada menu reschedule  yang bisa dipilih. Dalam hati berguman, tidak apa – apa tanggal keberangkatannya dimundurkan.  Sudah tenang sesaat. 

TTTTAAAADDDDDDAAAAA. Ternyata, pilihan itu tidak ada. 

Hayo, auto panik karena baru pertama kali dapat pemberitahuan beginian. Akhirnya, diambil keputusan  pilihan pengembalian dana (next bakalan cerita pertama kalinya refund tiket pesawat).
Besoknya, balik lagi cari tiket di biro perjalanan itu (ga kapok ceritanya). Pilihan  lagi – lagi transit melalui kota  Padang (tidak belajar dari pengalaman). Nunggu seminggu lagi jadwal penerbangannya. Masih bisa santai sambil nunggu jadwal perjalanan. Eeeehhh, tiba – tiba dua hari sebelum keberangkatan kembali dapat “surat cinta” dari biro perjalanan. Kali ini,  tidak milih pengembalian dana. Saya mencoba memberanikan diri menghubungi pihak maskapai.

Kita mulai cerita saat menghubungi pihak maskapai. Siapa tahu nantinya ada yang mengalami pengalaman yang sama. TOOSSS... Kita sama, jangan khawatir teman - teman ...^^
Agak panjang ceritanya.....
Tapi, tenang bukan dongeng penghantar tidur kok....

Ok, kita mulai. Pagi itu saya menghubungi pihak maskapai. Mungkin sibuk kali ya, jadinya saat pertama kali, costumer servicenya sulit dihubungi. Cukup lama menunggu respon dari pihak maskapai. Sampai akhirnya, bisa tersambungkan. Ketemu costumer service yang ramah.
“Selamat pagi, mbak dengan costumer service dari Li** air. Ada yang bisa saya bantu?”
“Ini, mbak. Saya salah satu penumpang dari maskapai, mbak. Pesawat saya dari Bengkulu menuju Medan, transit di Padang. Tiba – tiba kemarin saya dapat pesan dari pihak biro perjalanan terjadi perubahan jadwal dari pihak maskapai. Di sana, tertera pesawat dari Bengkulu ke Padang jam dua siang keberangkatannya, tapi pesawat dari Padang ke Medan jadwalnya jam dua belas siang. Menurut saya yang awam, saya belum tiba dan ketinggalan pesawat.  Jadi, gimana solusinya ya, mbak? Terima kasih.”
“Ok, ini dengan mbak siapa saya bicara?”
“Saya Hanni penumpang penerbangan Bengkulu Medan transit di Padang.”
“Ok, dengan mbak Hanni. Jadi, masalahnya ada perubahan jadwal dari pihak kami ya, mbak?”
“Iya, mbak. Benar. Ini sudah kali kedua dan yang pertama kemarin langsung saya batalkan. Masa kali ini saya mesti batal lagi?”
“Ok, mbak. Kita terima permasalahan mbak. Solusi dari kami mbak bisa ganti jadwal penerbangan. Memang penerbangan dari Padang ke Medan hanya sekali sekarang, mbak. Jadi, tiket mbak tidak bisa digunakan. Mbak bisa pilih transit dari kota lain. Gimana, mbak? Bisa bantu sebutkan kode booking mbak!”
“Pilihannya melalui mana saja ya, mbak? Kode bookingnya bentar, saya check dulu ya, mbak.”
“Ok, mbak. Saya terima dengan nona Hanni Bhestari Penerbangan dari Bengkulu ke Medan transit Padang jamnya dari Bengkulu ke Padang jam dua siang dilanjutkan dari Padang ke Medan jam dua belas siang. Benar, mbak?”
“Benar mbak. Jadi gimana ya, mbak? Bisa melalui mana saja, mbak transitnya ntar?”
“Bisa dari Batam ataupun Jakarta, mbak. Jadi gimana, mbak?”
“Saya pilih Jakarta aja, mbak. Keberangkatan jam berapa adanya, mbak?”
“Jam sepuluh pagi, mbak dari Bengkulu ke Jakarta dan jam empat dari Jakarta Medan. Kita dari pihak maskapai kalau mbak pilih harinya, sehari sebelum atau sesudah waktu keberangkatan pertama di tiket mbak yang sekarang tidak ada penambahan uang. Gimana, mbak? Mbak maunya kapan. Jadwalnya sesuai di tiket apa sehari setelahnya?”
“Sesuai jadwal di tiket aja harinya, mbak. Terima kasih.”
“Ok, mbak tunggu sebentar. Saya cek sekali lagi data mbak ya dan saya proses jadwal barunya. Mohon tunggu sebentar. Teleponnya jangan dimatikan ya, mbak. Kalau dimatikan, maka mbak harus mulai proses dari awal lagi. Terima kasih, mbak.”
“Ok, mbak. Saya tunggu.”

Akhirnya, dipilih harinya sesuai jadwal keberangkatan di tiket awal. Lumayan lama nunggu mbaknya memproses tiket baru. Setengah jam masih juga belum ada respon dari sana. Cuma dengarin lagu saja. Eh, tiba – tiba tertekan pilihan akhiri panggilan. Alhasil, kembali lagi dari awal. Ah, tambah stress saat itu juga. Aduh, rasanya udah panas, kesal, prosesnya lama. Aduh……

Ok, saya mulai lagi dari awal. Intinya masih sama saja seperti pertama tadi. Menghubungi CS maskapai dari mulai pertama lagi. Perlu dipersiapkan sebelum menghubungi CS itu, nama penumpang dan kode bookingnya. Setelah itu kita diminta menunggu proses pembuatan tiket baru dengan jadwal penerbangan yang kita inginkan. Pada proses ini CS seperti lagi PHPin kita. Secara, waktu nunggunya itu lumayan lama pake banget. Kita bakalan diminta menunggu  kurang lebih satu setengah jam. Ingat, jangan sampai sambungan telepon kita terputus! Kalau tidak ingin seperti saya yang harus mengulang memberitahukan identitas si penumpang. Sayang waktu sama pulsanya cuma mengulang – ulang terus (curhat sedikit).
Setelah satu setengah jam nunggu, akhirnya yang dinantikan tiba. Yap, pihak maskapai memberitahukan kejelasan solusi dari mereka. Pertama CS mengkonfirmasikan tentang identitas kita penumpang dan jadwal penerbangan yang akan kita reschedulekan. Setelah kita selesai mengkonfirmasi kalau identitas kita benar, kemudian dari pihak maskapai memberitahukan jadwal baru pilihan kita beserta kode bookingnya. Seperti di awal, kita kembali mengkonfirmasikan benar atau tidaknya data yang diberikan kepada kita.

Ingat untuk menanyakan bukti tiket kita yang baru!

Kebetulan kemarin saya langung menanyakan tiket ini setelah diberikan kode booking karena saya orangnya lumayan pelupa. Mendingan langsung minta e-ticket pengganti. Dari pihak maskapai menanyakan mau dikirim via apa. Saya pilih melalui e-mail dan pihak maskapai langsung meresponnya. Akhirnya, jadi juga saya pulang ke Siantar. ^^ Ada aja hikmah dari pengalaman ini. Saya pilih tiket pengganti melalui Jakarta dan saat saya cek di biro perjalanan, harga tiketnya jauh lebih tinggi dari kota transit yang pertama via Padang. Tenang, biarpun harga tiketnya selangit karena sebagai penebusan kesalahan dari pihak maskapai, maka kita penumpang tidak perlu membayar sisa harga tiket yang baru. Istilah sederhananya, bukan sistem tukar tambah, tapi sistem barter.


Jadi, kalau ada di antara sahabat di sini yang menghadapi permasalahan seperti saya. Jangan panik! Jangan buru – buru mengambil keputusan membatalkan perjalanan sahabat. Ada solusinya. Rutenya:
1. Persiapkan terlebih dahulu nama dan kode booking tiket awal kita,
2. Survei jawal penerbangan pengganti dan tentukan dengan pasti penerbangan pengganti,
3. Setelah pilihannya pasti, kemudian teman - teman hubungan call center  maskapai yang digunakan,
4. Setelah itu, akan dihubungi CS, ngobrol lumayan lama nih... (*kudu dipersiapkan pulsa yang lumayan banyak, karena call center biasanya menggunakan telepon rumah),


Semoga sahabat ada referensi saat ada di posisi saya seperti dulu. Saya saja menyesal mengambil keputusan di saat panik. hehe^^

Sampai jumpa di tulisan dan curhat berikutnya...


Salam hangat,

Mocchanita

Komentar